Romantis ala Abah Yai
Lagi-lagi santri putrinya menengok keromantisan abah yai dihari raya kemarin. Saat santri putrinya itu menjalin silaturahim ke ‘ndalem’ beliau. Betapa bahagianya bertemu abah Yai dengan personil yang lengkap, saling menumpahkan rindu di tempat singgah menuntut Ilmu, pesantren Mojokerto. Syukur, pernah menciptakan kenangan disana.
“Coba umi sebutkan satu-satu nama muridnya ini, masih ingat ndak ?”, tanya abah yai yang jarang absen menggunakan bahasa Indonesia, yang duduk disamping bu nyai sambil memandang lekat istrinya.
“Nggih iling, abi niku sing mboten iling,” sahut bu nyai. seyumlah abah yai, mendengar jawaban istrinya yang cukup ketus-ketus manja.
“Iya makannya, coba sebutin namanya mulai dari depannya umi” , lanjutnya
“Yo ben arek-arek seng nyemauri, lapo kok kula” (kalih geguyu).
Abah Yai sangat paham dengan kondisi istrinya tersebut. Apalagi sudah berusia lanjut, penyakit pikun juga jadi khasnya. Dan sudah pasti, santrinya memaklumi hal itu. Satu per satu santrinya itu merespon penyataan beliau, mulai menyebutkan namanya dan asal perguruan tinggi tempat melanjutkan pendidikannya.
Hampir tiap melihat keromantisan beliau-beliau, santri putri didepannya itu, menyimak dan ketawa-ketiwi sambil berbisik “Abah Yai romantis ya, cara nggodanya, hihihi,”
Suasana kala itu cukup mengartikan bahwa cinta itu analoginya seperti pemberian pupuk pada tanaman, semakin rutin memberinya asupan pupuk, maka tanaman akan tumbuh dengan baik. Sama halnya sikap romantis, jika dipupuk secara kontinyu maka cinta akan tertanam semakin kuat dan baik. Seperti yang dilakukan abah yai terhadap istrinya itu loo ...
Hal itu mengisyaratkan bahwa romantis tidak terbatas pada usia pernikahan, yang manis diawal doang. Bahkan itu perlu terus menerus dilakukan. Romatis tidak melulu soal harta benda bukan? gurauan kecil juga masuk kategori sikap romantis. Meski kecil jangan remehkan, itu memperkuat hubungan dua insan ‘suami-istri’.
{Back to topic}
Tiba-tiba santri putrinya itu, dikagetkan dengan pertanyaan abah Yai “Siapa dulu yang sudah menemukan jodohnya?”, Satu persatu dipandangnya.
Wajar saja, anak-anaknya itu sudah berumur dewasa, yang dalam tradisi sudah sebaiknya perempuan itu menikah diusia muda. Lebih cepat lebih baik. Tapi santri-santri milenial kini cukup memiliki pemikiran yang cenderung modern, ingin mewujudkan keinginan dan ambisinya terlebih dulu.
Serentak satu ruangan menjawab “mba idaa”, disusul dengan gelak tawa kecil diruangan terbuka itu. Abah Yai dan bu Nyai pun turut serta.
Seperti biasanya temannya yang bernama Ida itu tak jarang dijadikan kambing hitam saat merujuk pembahasan soal jodoh. Apalagi didepan abah Yai. Spontan saja Ida menolak dengan suara lirih, sambil menyalahkan teman-temannya yang selalu menjadi sasaran temannya. Yaa... meski begitu ia tak terlalu ambil pusing.
“Kalau anak MA harus nunggu lulus terlebih dahulu, baru boleh menikah” lanjut abah yai. Memang diperkuliahan Ma’had Aly tidak dianjurkan menikah ditengah-tengah perkuliahan, harus menyelesaikan studinya dulu.
“Nek wis nemu jodohe ya gak papa rabi. Gak usah wedi nek boten saget lanjut kuliah. Wong Aku ambek Abi mari rabi ngelanjutna kuliah. Abi ning Riyadh, aku ning UNH**Y” , jawab bu Nyai sambil senyum-senyum, sedang kita semua menyimak dengan seksama. Sambil melirik camilan didepan mata. Berbagai aneka kue dan juga kerupuk, santapan paling gurih tersedia di sana. Seorang teman dipojok sana, asik sendiri, makan nastar favoritnya. Saking sukanya, hampir habis nastar itu dimakannya. Sementara teman satunya, tiba-tiba saja mengambil sewadah nastar itu, ‘menyembunyikan’ niatnya, agar tak habis dilahapnya.
“loh ning ndi nastar e mau. Wah aja disinggakno” . (artinya: sembunyikan), Izah mencari box nastar itu.
“Nastar’e mbok entekno dewe ngunu,” (artinya: habiskan), kata Tasya sambil cekikikan
Perbincangan yang random, suasana yang hening. Santri putrinya maju mundur untuk membuka perbincangan. Sesekali saja menanyakan kabar. Selanjutnya tak berani membuka dialog lagi. Bahkan saling lempar untuk mengajak abah dan bu Nyai berbincang. Hanya menyahuti pertanyaan yang terlontar dari mereka. Daripada berlama-lama bertamu dan tak banyak yang diperbincangkan santri putrinya memutuskan untuk berpamitan pulang. Tak lupa meminta restu dan doa serta mengaminkannya.
Selepasnya, masing-masing beranjak dari tempat duduknya.
“Eh iya, jangan lupa minta foto”, Ida mengingatkan.
Kesempatan ini memang tidak boleh kelewatan,
Izah bergerak cepat meminta izin untuk berfoto bareng beliau-beliau.
Terlihat abah Yai mengingatkan istrinya untuk menata kerudungnya yang hanya diselempangkan ujungnya. Lagi-lagi santrinya cekikikan atas respon beliau dengan jawaban ketus-manjanya.
“Umi, lehernya masih kelihatan, dipakaikan peniti saja biar ndak kelihatan.”
“Pundi toh Bi? boten ngeten lo. Loh mboten ketingalan.”
Abah Yai mengulurkan peniti dari pemberian putri tunggalnya. karena merasa leher beliau benar-benar tak terlihat setelah dibenahnya, istri kesayangannya tetap menolak dengan manja. Sambil berkali-kali mengoreksi. Apa daya abah Yai hanya tersenyum-senyum melihat penolakan istrinya itu.
Entah mengapa, keromantisan mereka sangat manis bagi santri-santrinya itu.
Selesai ...
*Mohon maaf apabila ada diksi yang tidak cocok untuk disandingkan dalam kisah ini. Bukan maksud lain, hanya agar menyentuh hati para pembaca. Kalau biasa saja ya sudah ndak papa, penting kalian baca. Haha.
Komentar
Posting Komentar