Raden Mas Kudiarmaji, Pangeran sekaligus Filsuf dari Jawa
Masa-masa penjajahan adalah masa beragam kegalauan yang silih berganti. Kita terjajah atas kedatangan bangsa Eropa. Bagaimana tidak, segala bentuk manifestasi dari krisis politik, ekonomi, dan kemanusiaan, terjadi bertahun-tahun lamanya. Mencari kenyamanan demi ketentraman hati dari hiruk pikuk kedatangan bangsa Eropa di Indonesia adalah jalan yang diambil oleh Raden Mas Kudiarmaji. Sebagai bagian dari keluarga keraton, kesultanan Yogyakarta, tentunya ia paham betul dengan kondisi tersebut. Sehingga beliau mengambil jalan yang bisa menjawab kegalauan atas perasaan sekaligus keingintahuannya terhadap masalah kejiwaan, bersangkutan dengan kebahagiaan. R.M Kudiarmaji bahkan rela menanggalkan status kepangerannya beserta segala kemewahan yang dimilikinya waktu itu. R.M Kudiarmaji sibuk mencari jawaban dari hakikat hidup sambil mengembangkan pengetahuan mengenai jiwa manusia, yang akhirnya beliau mencetuskan pengetahuan yang disebut Kawruh Jiwa.
Semakin mencari ia mulai mendekati jawaban atas segala keresahan menuju ketentraman jiwa. Ia sadar betapa kepemilikan materi menjadi penghambat untuk pencapaian sebuah kebahagiaan. Sejak itu, hatinya mengasihi orang lain, memberikan hartanya kepada orang lain secara cuma-cuma, misalnya memberikan kendaraannya kepada pengawalnya. Terkejutnya lagi, seorang yang berasal dari golongan keluarga kerajaan, kaya raya, menolak penobatan gelar pangeran.
Gagasan Kawruh Jiwa R.M Kudiarmaji
Gagasan Kawruh Jiwa R.M Kudiarmaji adalah gagasan tentang pencarian “kebahagiaan” atau “kebebasan Spiritual”. Pertama dikenal dengan Kawruh Bedja, namun lebih serin dikenal dengan Kawruh Jiwa (KJ). KJ adala pengetahuan jiwa, ia juga berbicara tentang rasa. Ditekankan bahwa KJ bukanlah sebuah agama atau kepercayaan baru terhadap sesuatu, bukan belajar baik buruk, dan juga tidak ada keharusan untuk melakukan atau menolak sesuatu. Melainkan belajar mengenai jiwa dengan segala wataknya. Belajar hidup jujur, tulus, percaya diri (tatag), tenteram, tenang, penuh kasih sayang, hidup berdampingan dengan baik dan penuh rasa damai. Inti pelajaran KJ adalag belajar memahami diri sendiri secara tepat, benar, dan jujur sebagai bekal untuk memahami atau mengerti orang lain serta alam lingkungannya. Dengan begitu seseorang dapat hidup baik, damai dan bahagia.
Beberapa hal yang perlu dipahami untuk memahami mampu tidaknya seseorang hidup bermasyarakat secara sehat,
A. Karep lan Mulur-Mungkret
Karep (keinginan) punya watak mulur-mungkret (mengembang-menurun). Maksudnya, ketika keinginan seseorang telah tercapai, sikap konsisten seseorang terhadap keinginan tersebut akan mulur, ia akan menginginkan selebihnya lagi. Dalam keseharian, orang-orang dapat menerapkan pengertian mulur-mungkret untuk mengatur keinginan agar tidak melampaui batas kemampuan atau bertindak melanggar norma-norma yang ada. Sebagai contoh, misal keinginaan seseorang untuk mempunyai onthel sudah terpenuhi, ia akan meminta lebih lagi dari pada onthel, seperti sepeda motor misalnya. Namun jika keinginan kedua itu tidak terpenuhi, secara alamiah mestinya keinginan seseorang dalam keadaan mungkret (menyusut), menerima dulu apa yang sudah dimiliki. Sehingga seseorang tidak merasa frustasi atau bahkan bertindak melampaui batas.
B. Karep lan Bungah-Susah (Keinginan dan gembira-susah)
Hidup punya dua dimensi bungah-susah. Ia tak dapat dihindari, akan terus mengikuti kehidupan manusia secara bergilir. Keduanya berjalan saling melengkapi dan berimbang. Tak ada kegembiraan yang terus menerus, sebalinya dengan kesedihan. Sehingga dalam hidup ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Hanya perlu sikap kelapangan dada untuk memahami hal tersebut.
C. Getun-Sumelang (Kecewa-Khawatir)
Sikap ini akan sulit untuk menempatkan diri dalam pergaulan di lingkungannya, karena terbelenggu oleh perasaan getun-sumelang. Perasaan tersebut tidak dapat memotret lingkungannya secara jernih dan benar. Ini menjadi kemungkinan karena Raos Tatu (luka hati atau dendam) yang mempersulit dalam bersikap objektif, jujur, tulus, penuh kasih sayang dan damai. Orang yang terbebas dari belenggu getun-sumelang akan memasuki perasaan tatah (percaya diri, tenang) sehingga mudah memperoleh kebahagiaan
D. Meri- Pambegan (Iri-Sombong)
Seringkali manusia terjebak dalam perasaan meri-pambegan (Iri-Sombong). Hidup dalam belenggu rasa seperti itu, terasa tidak nyaman. Jikalau saja perasaan seperti itu tertanam dalam diri manusia, ia akan terus menerus harus dilayani. Sehingga manusia tak mampu melihat mana yang menjadi kebutuhan hidupnya sendiri. Ia selalu menilai kebutuhan hidup orang lain. Sikap ini bisa-bisa bertindak berlebihan, atau kelewat batas. Untuk itu penting bagi manusia menjernihkan hatinya masing-masing agar mudah bertindak benar dan memahami dunia dengan jernih.
E. Rumaos-Leres (Merasa Benar)
Perasaan Rumaos leres ini juga memicu sikap tidak sehat dalam pergaulan di lingkungannya. Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh R.M.Kudiarmaji
"Wonten aling-aling ingkang ngalang-ngalangi awakipun piyambak anjok dhateng ukuran kalung sakawan. Aling-aling punika awujud pamanggih leres. Pamanggih leres ingkang wonten awakipun piyambak punika murugaken supaya”.
Ungkapan ini menjelaskan bahwa yang menghalangi rasa manusia agar peka terhadap sesama adalah masing-masing pihak merasa benar. Itu akan menciptakan ketegangan, pertengkaran dua belah pihak yang masing-masing merasa benar.
F. Semat-Drajat-Kramat
Hal penting yang menyita perhatian adalah 3 unsur semat (materi), Drajat (pangkat), dan Kramat (kehormatan, gila hormat, kekuatan politik). Tiga unsur tersebut memang penting menurut R.M Kudiarmaji, namun tidak menentukan kebahagiaan seseorang. Jika ketiga itu tidak diperhatikan secara jernih dan benar, seseorang akan mengejar dengan cara-cara yang tidak wajar, diluar batas, atau bahkan memunculkan ketegangan sosial dan kerusuhan. Kata pangeran Kudiarmaji:
"Salumahing bumi, sakurebing langit, punika mboten wonten barang ingkang pantes dipun aya-aya dipun padose, utawi dipun ceri-ceri dipun tampik. Dene Yen tiyang inggih ngaya-ngaya pados punapa-punapa,utawa nyeri-nyeri nampil punapa-punapa. Nanging barangipun punika mboten pantes, mboten patut".
Tidak ada sesuatu yang pantas dikejar atau ditolak mati-matian. Namun, sifat manusia pasti mengejar dan menolak sesuatu mati-matian. Walaupun tak pantas diperlakukan seperti itu. Kadang Seseorang memang harus mengontrol dirinya ketika memiliki ambisi, apalagi saat ambisi itu tidak terpenuhi. Atau sesuatu yang tidak kita sukai menghampiri kita, maka tak perlu berlarut larut dalam kesedihan atau frustasi. Seperti kaidah bungah-susah.
G. Kandha-takon
Kegiatan semacam dialog atau diskusi sangatlah penting dalam komunitas. Istilah jawanya Kandha-takon (menyampaikan informasi,pendapat-menanyakan sesuatu). Hal yang paling sensitif dalam kegiatan ini adalah perbedaan pendapat, sehingga terjadi perselisihan diantara dua belah pihak. Kegiatan ini harus paham terlebih dulu pathokan-kandha (prinsip-prinsip penyampaian pendapat). Salah satunya adalah kandha-luluh—terciptanya rasa bersatu dan saling pengertian antara pihak tiyang ingkang kandha lan tiyang ingkang Takon (orang yang menyampaikan pendapat dan orang yang bertanya).
Kegiatan diskusi atau dialog, kandha utawa Takon itu tujuannya untuk dimengerti,bukan untuk ditaati atau dituruti. Kalau tujuannya ingin ditaati, maka manusia sifat alamiah seseorang tidak suka untuk ditaklukkan, sederhananya.. seseorang tidak akan mudah menaati atau menuruti apa kata orang. Jadi, konsep penyampaian pendapat harus dipahami dengan baik agar tak menimbulkan perselisihan berkepanjangan, pertengkaran, dan kerusuhan.
Komentar
Posting Komentar